Harga garam dalam beberapa pekan terakhir mengalami lonjakan tajam. Penyebabnya sejumlah sentra garam mengalami kemarau basah atau curah hujan tinggi saat musim kering, sehingga membuat banyak petambak garam gagal panen.

Produk makanan yang menggunakan bahan baku garam cukup banyak, salah satunya telur asin.

Liana, salah seorang pedagang telur di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, mengungkapkan tak ada kenaikan telur asin meski harga garam melonjak tajam. Harga telur dari bebek tersebut tak berubah, dirinya masih menjual seharga Rp 2.800/butir.

“Garam kan memang naik, tapi terlalu dibesar-besarkan. Ini telur asin saya jualnya masih Rp 2.800/butir, tahun lalu juga sama, enggak ada yang turun atau naik. Makanya terlalu ramai saja menurutku kalau garam naik,” ungkap Liana ditemui di losnya, Jumat (4/8/2017).

Menurut dia, telur asin tersebut dibelinya dari daerah Rengasdengklok, Karawang. Dirinya enggan menyebutkan berapa harga telur asin dari tempat kulakan. Namun menurutnya, tak ada kenaikan pada telur asin saat ada kelangkaan garam.

“Makanya saya bilang terlalu dibesar-besarkan saja. Mungkin biayanya di pembuat telur asin naik, tapi mungkin enggak banyak, jadi enggak ngaruh ke harga telur asin,” tutur Liana.

Yanto, pedagang lainnya, juga mengungkapkan hal yang sama. Harga telur asin tetap stabil meski garam mengalami kenaikan.

“Garam lagi ramai, tapi harga telur masih biasa saja tuh. Enggak ada yang naik, masih sama saja harganya,” pungkas Yanto.

 

sumber: https://finance.detik.com/industri/3585961/harga-garam-melonjak-bagaimana-harga-telur-asin

Komentar

comments