foto: bujangmasjid.blogspot.co.id
foto: bujangmasjid.blogspot.co.id

Artikel ini dikutip dari berbagai sumber di internet dan dari nara sumber Masjid Agung Karawang, saya simpulkan dan tulis kembali di kaji dan diambil dari segi benang merahnya.

Masjid Agung Karawang terletak di Jalan Alun – Alun Barat Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat Indonesia. Masjid Agung Karawang dibangun oleh seorang Waliyullah yang bernama Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang atau Syech Qurotul’ain pada tahun 1340 Saka atau tahun 1418 Masehi atau sekitar pada abad ke – 15. Pada awalnya Masjid Agung Karawang ini merupakan sebuah pondok pesantren yang bernama Pesantren Quro dan sekaligus Mushola kecil untuk tempat mengaji dan sholat 5 waktu bagi para Santrinya termasuk Nyi Subang Larang dan para Warga Karawang. Masjid Agung Karawang berbentuk bangunan Joglo bertiang utama (soko guru) yang memiliki empat tiang utama, bentuk atap Limas bersusun Tiga yang melambangkan : Iman, Islam dan Ihsan.

Di Masjid Agung Karawang ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu peristiwa pernikahan antara Nyi Subang Larang putrinya Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon dengan putra mahkota kerajaan Pajajaran putra dari Prabu Angga Larang yang bernama Raden Pamanah Rasa. Pernikahan antara Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa berlangsung pada tahun 1344 Saka atau tahun 1422 Masehi, dan sebagai penghulunya pada waktu itu adalah Syech Hasanudin atau Syech Quro Karawang.

Hasil dari pernikahan tersebut, mereka ( Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa ) dikaruniai 3 orang anak yaitu :
1. Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat ( Yang lahir pada tahun 1345 Saka atau tahun 1423 Masehi ).
2. Nyi Mas Rara Santang atau Syarifah Muda’im ( Yang lahir pada tahun 1348 Saka atau tahun 1426 Masehi ).
3. Raja Sangara atau Raden Kian Santang ( Yang lahir pada tahun 1350 Saka atau tahun 1428 Masehi ).

 

SYECH QURO KARAWANG

Syech Hasanudin merupakan putra dari Syech Yusuf Sidik ( Waliyullah Malaka ) dengan Dyah Kirana ( Putrinya Imam Jamaludin Al Husain atau Kakek Syarifah Halimah ). Syech Hasanudin merupakan seorang Waliyullah atau ulama besar yang lahir dan dibesarkan di Campa, sekarang masuk wilayah Kamboja. Jika di tarik dan di lihat dari silsilah keturunan, Syech Hasanudin masih ada garis keturunan dari Sayidina Husein Bin Saiyidina Ali r.a. menantu dari Nabi Muhammad SAW. dari keturunan Dyah Kirana ( Ibunya Syech Hasanudin ). Selain itu Syech Hasanudin juga masih suadara seketurunan dengan Syech Nurjati Cirebon dari generasi ke – 4 Amir Abdullah Khanudin.

Sebelum mendarat di Karawang, Syech Hasanudin mendarat untuk pertama kalinya menginjakkan tanah Jawa di Pelabuhan Cirebon tepatnya di Muara Jati Cirebon. Sebelum mendarat di Muara Jati Cirebon, Syech Hasanudin mendarat di Martasinga, Pasambangan dan Japura hingga akhirnya sampai ke pelabuhan Muara Jati Cirebon. Syech Hasanudin mendarat di Pelabuhan Cirebon pada tahun 1338 Saka atau tahun 1416 Masehi, sedangkan Syech Nurjati mendarat di Cirebon pada tahun 1342 Saka atau tahun 1420 Masehi atau 4 tahun setelah pendaratan Syech Hasanudin di Cirebon. Kedatangan Syech Hasanudin di Cirebon, disambut baik oleh Syahbandar atau penguasa Pelabuhan Muara Jati Cirebon yang bernama Ki Gedeng Tapa.

Maksud dan tujuan kedatangan Syech Hasanudin ke Cirebon adalah untuk menyebarkan ajaran Agama Islam kepada Rakyat Cirebon. Syech Hasanudin ketika di Cirebon, namanya disebut dengan sebutan Syech Mursahadatillah oleh Ki Gedeng Tapa dan para santrinya atau rakyat Cirebon.

Setelah sekian lama di Cirebon, akhirnya misi Syech Hasanudin untuk menyebarkan ajaran Agama Islam di Pelabuhan Cirebon rupanya diketahui oleh Raja Pajajaran yang bernama Prabu Angga Larang. Namun disayangkan misi Syech Hasanudin ini oleh Prabu Angga Larang di tentang dan dilarang, dan kemudian Prabu Angga Larang mengutus utusannya untuk menghentikan misi penyebaran Agama Islam yang dibawakan oleh Syech Hasanudin dan mengusir Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah dari Tanah Cirebon.

Ketika utusan Prabu Angga Larang sampai di Pelabuhan Cirebon, maka utusan itu langsung memerintahkan kepada Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah untuk segera menghentikan dakwah dan penyebaran Agama Islam di Pelabuhan Cirebon. Agar tidak terjadi pertumpahan darah, maka oleh Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah perintah yang dibawakan oleh utusan dari Raja Pajajaran Prabu Angga Larang itu disetujuinya, dan Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah seraya berkata kepada utusan Raja Pajajaran Prabu Angga Larang : “ Meskipun dakwah dan penyebaran ajaran Agama Islam ini dilarang, kelak dari keturunan raja Pajajaran akan ada yang menjadi Waliyullah meneruskan perjuangan penyebaran ajaran Agama Islam ”. Peristiwa ini sontak sangat disayangkan oleh Ki Gedeng Tapa dan para santri atau rakyat Cirebon, karena Ki Gedeng Tapa sangat ingin berguru kepada Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah untuk memperdalam ajaran Agama Islam.

Ketika itu juga Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah pamit kepada Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon untuk pergi ke Malaka, maka Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon menitipkan anak kandung Putri kesayangannya yang bernama Nyi Subang Larang, untuk ikut berlayar bersama Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah ke Malaka.

Waktu terus bergulir rupanya Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah ingin kembali lagi ke tanah Jawa, untuk meneruskan perjuangannya menyebarkan ajaran Agama Islam. Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah bersama Nyi Subang Larang beserta para santrinya yang lain seperti : Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur, berlayar ke Pulau Jawa. Pelayaran yang kedua kalinya ini Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah tidak mendarat di Pelabuhan Muara Jati Cirebon, melainkan mendarat di Pelabuhan Pura Dalem Karawang, pelayaran kali ini Syech Hasanudin bersama Nyi Subang Larang beserta para santrinya ikut pelayaran kapal dagang yang di Nahkodai oleh Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming dari Negara Cina.

Setelah sampai di Pelabuhan Pura Dalem Karawang, kapal dagang yang di Nahkodai Laksamana Cheng Ho berlabuh di Pelabuhan Pura Dalem Karawang. Kemudian Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah bersama Nyi Subang Larang beserta santrinya yang lain seperti : Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur berpamitan kepada Laksamana Cheng Ho, untuk meneruskan perjalanannya ke pedalaman Karawang, setelah berpamitan dengan Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah Laksamana Cheng Ho pun melanjutkan perjalanannya ke Pelabuhan Cirebon dan meneruskan perjalanannya sampai ke Pelabuhan Kerajaan Majapahit di Surabaya.

Setelah menyusuri Sungai Citarum, akhirnya rombongan kapal dagang Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah mendarat di Pelabuhan Bunut Kertayasa ( Kampung Bunut Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang sekarang ini ). Atas izin penguasa setempat, maka rombongan Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah diperbolehkan untuk mendirikan bangunan tempat tinggal dan tempat untuk mengaji dan solat 5 waktu, yang kemudian dikenal dengan nama Pesantren Quro atau Masjid Agung Karawang sekarang. Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah bersama santrinya mendirikan Masjid Agung Karawang ini pada tahun 1340 Saka atau pada tahun 1418 Masehi.

Kabupaten Karawang pada zaman dahulu, tepatnya pada zaman Kerajaan Pajajaran memiliki 3 buah pelabuhan yang sangat penting, yaitu :

1. Pelabuhan Pura Dalem Karawang di Muara Sungai Citarum (Sekarang Kecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawang),
2. Pelabuhan Bunut Kertayasa ( Sekarang Kampung Bunut Kelurahan Karawang Kulon Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang ) dari arah Pelabuhan Pura Dalem,
3. Pelabuhan Nagasari Jebug ( Sekarang Kampung Nagasari Jebug Kelurahan Nagasari Kecamatan Karawang Barat Kabupaten Karawang ) dari arah Galuh Pajajaran dan Pakuan Pajajaran.

Adapun bukti bukti yang menguatkan adanya Pelabuhan Karawang di Kampung Bunut Kelurahan Karawang Kulon yaitu ditemukannya kapak batu Neolit, beberapa keping uang VOC dari tembaga dan uang Gulden dari bahan perak, pecahan – pecahan porselen dari Tiongkok dan sebuah makam Embah Dalem yang tidak lain adalah wakil raja yang memerintah di suatu wilayah ( Penguasa Setempat).

Ketika di Karawang nama Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah disebut oleh penduduk Karawang dengan sebutan nama Syech Quro Karawang atau Syech Qurotul’ain, disebut Syech Quro karena Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah itu merupakan seorang Qori yang bersuara merdu ketika sedang membacakan atau melantunkan ayat suci Al – Qur’an.

Kemerduan suara yang dilantunkan oleh Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang ini, rupanya didengar oleh seorang wanita yang bernama Ratna Sondari. Ratna Sondari ini merupakan putrinya Ki Gedeng Karawang, yang pada waktu itu sedang belajar mengaji di Paguron atau Pesantren Quro Karawang. Lambat laun akhirnya Ratna Sondari jatuh cinta kepada Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang, dan kemudian Syech Quro dan Ratna Sondari akhirnya menikah di Pesantren Quro atau di Masjid Agung Karawang.

Hasil pernikahan antara Syech Quro dan Ratna Sondari, dikaruniai seorang anak laki – laki yang bernama Ahmad, yang kelak ketika setelah dewasa Ahmad menjadi penerus perjuangan sang ayah menyebarkan ajaran Agama Islam di Karawang dengan sebutan nama Syech Ahmad. Perkembangan Pesantren Quro di Karawang sangat pesat, banyak santri – santri yang berada di luar Karawang untuk belajar di Pesantren Quro.

Akhirnya berita perkembangan Pesantren Quro yang dipimpin oleh Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro di Karawang, didengar pula oleh penguasa Kerajaan Pajajaran Prabu Angga Larang yang berusaha untuk menutup kembali Pesantren Quro di Karawang. Maka Prabu Angga Larang mengutus anak kandungnya putra mahkota Kerajaan Pajajaran yang bernama Prabu Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Quro bersama pengawalnya. Setelah sampai di pesantren tersebut, Raden Pamanah Rasa tertarik oleh alunan ayat suci Al Quran yang dibacakan oleh Nyi Subang Larang. Niat untuk menutup kembali Pesantren Quro yang ditugaskan oleh ayahandanya diurungkan, kemudian Prabu Pamanah Rasa melamar Nyi Subang Larang.

Lamaran di Terima oleh Nyi Subang Larang dan Syech Quro Karawang dengan syarat, mas kawin harus Bintang Saketi ( Bintang Kerti Jejer Seratus ) simbol tasbeh dari Mekah, yang berarti Prabu Pamanah Rasa harus masuk Agama Islam. Syarat yang kedua salah satu keturunan anak yang dilahirkan harus menjadi Raja Pajajaran. Kedua syarat diterima dan pernikahan dilaksanakan di Pesantren Syech Quro ( Masjid Agung Karawang sekarang ) dengan Syeh Quro sebagai penghulunya. Pernikahan antara Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa berlangsung pada tahun 1344 Saka atau tahun 1422 Masehi. Pada waktu itu Nyi Subang Larang menikah dengan Raden Pamanah Rasa berusia 14 tahun.

Setelah menjadi Raja Pajajaran, Raden Pamanah Rasa bergelar Prabu Siliwangi. Dari perkawinan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Larang ini dikaruniai 3 orang anak yang dibernama :

1. Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat ( Yang lahir pada tahun 1345 Saka atau tahun 1423 Masehi ).
2. Nyi Mas Rara Santang atau Syarifah Muda’im ( Yang lahir pada tahun 1348 Saka atau tahun 1426 Masehi ).
3. Raja Sangara atau Raden Kian Santang ( Yang lahir pada tahun 1350 Saka atau tahun 1428 Masehi ).

Berita perkembangan Pesantren Quro di Karawang dan kemahiran yang dimiliki oleh Syech Quro Karawang, selain didengar oleh Prabu Angga Larang penguasa Kerajaan Pajajaran, juga didengar pula oleh Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem bin Jabir Modafah alias Syech Maghribi keturunan dari Sayyidina Usman bin Affan r. a. Yang berasal dari negeri Bagdad.

Setelah tiba di Pelabuhan Pura Dalem Karawang dan menelusuri sungai Citarum, akhirnya Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem tiba di Pelabuhan Bunut Kertayasa. Sesampainya di Pelabuhan Bunut Kertayasa, Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem di sambut baik oleh Syech Quro Karawang.

Namun kedatangan Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem ke Pesantren Quro Karawang, bermaksud ingin mengadu keahlian yang dimiliki oleh Syech Quro Karawang. Akhirnya oleh Syech Quro keinginan itu diturutinya, dan pada akhirnya keahlian yang dimiliki oleh Syech Quro lah yang tangguh. Keahlian atau karomah yang diberikan oleh Allah swt., kepada Syech Quro Karawang yaitu “ Weruh Sedurung Winara “ yang artinya dapat mengetahui suatu peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi.

Ketika itu pula Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem, menerima kekalahan dan berniat untuk berguru kepada Syech Quro Karawang untuk menjadi santrinya. Dan pada waktu itu Syech Quro memberi nama Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem dengan sebutan nama Syech Bentong.

Perkembangan Pesantren Quro di Karawang selain didengar oleh Prabu Angga Larang dan Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem alias Syech Bentong, juga didengar oleh penguasa Pelabuhan Cirebon yakni oleh Ki Gedeng Tapa Muara Jati Cirebon dan Syech Nurjati Cirebon.

Mendengar kabar ini disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa dan Syech Nurjati, sehingga Syech Quro Karawang di Paguron atau Pesantren Quro dengan Syech Nurjati Cirebon menjalin persahabatan dengan gerakan dakwah mereka berdua secara harmonis dan berjalan saling bantu membantu, yakni :

1. Syech Quro Karawang mengirimkan orang kepercayaannya yang bergelar Penghulu Karawang ke Dukuh Pesambangan untuk menjalin persahabatan.
2. Ratna Sondari ( Puteri Ki Gedeng Karawang ) atau istrinya Syech Quro Karawang memberikan sumbangan hartanya untuk mendirikan sebuah masjid di Gunung Sembung ( Nur Giri Cipta Rengga ) yang bernama Masjid Dog Jumeneng atau Masjid Sang Saka Ratu.
3. Syech Abdiulah Dargom alias Syech Darugem alias Syech Bentong dan Syech Bayanullah ( Adiknya Syech Nurjati Cirebon ) setelah menunaikan ibadah haji, mereka ( Syech Bayanullah dan Syech Bentong ) mendirikan Pesantren Quro di Desa Sidapurna Kabupaten Kuningan Jawa Barat sekarang.

Waktu terus bergulir ketika usia anak Syech Quro dan Ratna Sondari sudah beranjak dewasa, akhirnya Syech Quro berwasiat kepada santri – santri yang sudah cukup ilmu pengetahuan tentang ajaran Agama Islam seperti : Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur di tugaskan untuk menyebarkan ajaran Agama Islam ke bagian selatan Karawang, tepatnya ke Kecamatan Telukjambe, Ciampel, Pangkalan, dan Tegalwaru sekarang. Sedangkan anaknya Syech Quro dengan Ratna Sondari yang bernama Syech Ahmad, ditugaskan oleh sang ayah meneruskan perjuangan menyebarkan ajaran Agama Islam di Pesantren Quro Karawang atau Masjid Agung Karawang sekarang.

Sedangkan sisa santrinya yang lain yakni Syech Bentong ikut bersama Syech Quro dan Ratna Sondari istrinya pergi ke bagian Utara Karawang tepatnya ke Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang sekarang untuk menyebarkan ajaran Agama Islam dan bermunajat kepada Allah swt. Di Pulo Bata Syech Quro dan Syech Bentong membuat sumur yang bernama sumur Awisan, kini sumur tersebut masih dipergunakan sampai sekarang.

Waktu terus bergulir usia Syech Quro sudah sangat uzur, akhirnya Syech Quro Karawang meninggal dunia dan dimakamkan di Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang. Sebelum meninggal dunia Syech Quro berwasiat kepada santri – santrinya berupa : “Ingsun Titip Masjid Langgar Lan Fakir Miskin Anak Yatim Dhuafa”.

Maka penerus perjuangan penyebaran ajaran Agama Islam di Pulo Bata, diteruskan oleh Syech Bentong sampai akhir hayatnya Syech Bentong.

Makam Syech Quro Karawang dan Makam Syech Bentong ditemukan oleh Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syech Tolha pada tahun 1859 Masehi atau pada abad ke – 19. Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syech Tolha, di tugaskan oleh kesultanan Cirebon, untuk mencari makam Maha guru leluhur Cirebon yang bernama Syech Quro.

Bukti adanya makam Syech Quro Karawang di Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang, di perkuat lagi oleh Sunan Kanoman Cirebon yaitu Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin saat berkunjung ke tempat itu dan surat, penjelasan sekaligus pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII Nomor : P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 pada tanggal 05 Nopember 1992 yang di tunjukan kepada Kepala Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang.

Meskipun Syech Quro Karawang telah wafat, namun kerja sama dan persahabatan antara Karawang dengan Cirebon tetap berlanjut. Adapun bukti dari persahabatannya yaitu :

1. Cucunya Syech Ahmad dari Nyi Mas Kedaton yang bernama Musanudin, kelak Musanudin menjadi lebai atau pemimpin Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon pada masa pemerintahan Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Sedang Syech Ahmad itu sendiri merupakan anak dari Syech Quro Karawang dengan Ratna Sondari putri Ki Gedeng Karawang.
2. Pengangkatan juru kunci di situs makam Syech Quro dikuatkan oleh pihak Keraton Kanoman Cirebon.

Waktu terus bergulir, ketika anak – anak Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa telah menginjak usia dewasa dan telah mendapat bimbingan dari Waliyullah Syech Quro, maka ketiga anak – anak dari Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa itu ditugaskan oleh Syech Quro untuk lebih memperdalam lagi ajaran Agama Islam ke Pelabuhan Cirebon untuk berguru kepada Syech Nurjati Cirebon.

Setelah cukup mendapatkan bimbingan dari Syech Nurjati Cirebon, maka ketiga anak – anak dari Nyi Subang Larang dengan Raden Pamanah Rasa diberitugas oleh Syech Nurjati Cirebon, adik bungsu dari Nyi Mas Rara Santang dan Raden Walasungsang yang bernama Raden Sangara atau Raden Kian Santang bertugas menyebarkan dan mengajarkan ajaran Agama Islam di Barat Cirebon yakni ke wilayah Limbangan Kabupaten Garut, sedangkan Nyi Mas Rara Santang bersama kakaknya Raden Walasungsang ditugaskan untuk berhaji dan sebelum berhaji disarankan terlebih dahulu menemui Syekh Ibrahim di Campa untuk mendapatkan bimbingan.

Ketika setelah mendapatkan bimbingan dari Syech Ibrahim, maka Raden Walasungsang dan Nyi Mas Rara Santang ditugaskan untuk melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Selama di Mekah, keduanya tinggal di pondok Syech Bayanullah, adik Syekh Nurjati dan berguru kepada Syekh Abuyazid. Setelah selesai melaksanakan ibadah haji, maka kakanya Nyi Mas Rara Santang yang bernama Raden Walasungsang dipersunting oleh Nyi Indang Geulis atau Endang Ayu di Mekah, sedangkan adiknya yang bernama Nyi Mas Rara Santang ketika di Mekah dipersunting oleh raja Mesir yang bernama Maulana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah.

Kemudian setelah berhaji, Raden Walasungsang beserta istrinya Nyi Indang Geulis atau Endang Ayu pulang ke negeri Caruban atau Cirebon, sedangkan adiknya yang bernama Nyi Mas Rara Santang di bawa oleh suaminya ke negeri Mesir.

Nyi Mas Rara Santang setelah menikah dengan Maulana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah namanya diganti menjadi Syarifah Muda’im. Hasil dari pernikahan antara Nyi Mas Rara Santang dengan Maulana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah, dikaruniai 2 orang anak yakni :

1. Syarif Hidayatullah ( Lahir di Mesir pada tahun 1372 Saka atau tahun 1450 Masehi ).
2. Syarif Nurullah ( Lahir di Mesir pada tahun 1375 Saka atau tahun 1453 Masehi ).
Waktu terus berganti, setelah Syarif Abdullah ayahnya Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah meninggal dunia, maka jabatan Sultan Mesir diserahkan kepada Syarif Nurullah, sedangkan Syarif Hidayatullah dan ibundanya yang bernama Nyi Mas Rara Santang meneruskan menimba ilmu agama Islam dari ulama Mekah dan Bagdad. Setelah cukup menimba ilmu Agama Islam, tepatnya pada tahun 1397 Saka atau tahun 1475 Masehi Syarif Hidayatullah bersama ibundanya pulang ke Negeri Caruban atau Cirebon bermaksud untuk menyebarkan Agama Islam dan bertemu atau sungkem kepada Eyang dan Uwaknya Syarif Hidayatullah yakni kepada Ki Gedeng Tapa ( Eyang Syarif Hidayatullah ) dan Raden Walasungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat ( Uwak Syarif Hidayatullah ).

Sesampainya di Pelabuhan Muara Jati Cirebon, mereka disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa yang merupakan Eyangnya Syarif Hidayatullah dan Raden Walasungsang yang merupakan Uwaknya Syarif Hidayatullah, pada waktu itu Raden Walasungsang menjadi Penguasa Cirebon yang bergelar Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat. Akhirnya setelah lama di Cirebon Syarif Hidayatullah mendapatkan bimbingan dan arahan dari Ki Gedeng Tapa dan Raden Walasungsang untuk menjadi Santri Baru guna menimba lebih dalam lagi ilmu dan memperdalam Agama Islam ke Paguron Gunung Jati di Pasambangan Jati yang dipimpin oleh Syech Nurjati Cirebon.

Waktu terus bergulir setelah memperdalam Agama Islam di Paguron Gunung Jati Syech Nurjati Cirebon, Syarif Hidayatullah menerima wejangan – wejangan yang berharga dari Syekh Nurjati yakni : ”Ketahuilah bahwa nanti di zaman akhir, banyak orang yang terkena penyakit. Tiada seorangpun yang dapat mengobati penyakit itu, kecuali dirinya sendiri karena penyakit itu terjadi akibat perbuatannya sendiri. Ia sembuh dari penyakit itu, kalau ia melepaskan perbuatannya itu.

Dan ketahuilah bahwa nanti di akhir zaman, banyak orang yang kehilangan pangkat keturunannya, kehilangan harga diri, tidak mempunyai sifat malu, karena dalam cara mereka mencari penghidupan sehari-hari tidak baik dan kurang berhati-hati. Oleh karena itu sekarang engkau jangan tergesa-gesa mendatangi orang-orang yang beragama Budha.

Baiklah engkau sekarang menemui Sunan Ampel di Surabaya terlebih dahulu dan mintalah fatwa dan petunjuk dari beliau untuk bekal usahamu itu. Ikutilah petunjuk beliau, karena pada saat ini di tanah Jawa baru ada dua orang tokoh dalam soal keislaman, ialah Sunan Ampel di Surabaya dan Syech Quro di Karawang. Mereka berdua masing-masing menghadapi Ratu Budha, yakni Pajajaran Siliwangi dan Majapahit. Maka sudah sepatutnyalah sebelum engkau bertindak, datanglah kepada beliau terlebih dahulu. Begitulah adat kita orang Jawa harus saling menghargai, menghormati antara golongan tua dan muda.

Selain itu, dalam usahamu nanti janganlah kamu meninggalkan dua macam sembahyang sunah, yaitu sunah duha dan sunah tahajud. Di samping itu, engkau tetap berpegang teguh pada empat perkara, yakni syare’at, hakekat, tarekat, dan ma’rifat, serta wujudkanlah atau bentuklah masyarakat yang Islamiyah”.

Waktu terus berganti, ketika Syech Nurjati meninggal dunia maka pemimpin Paguron Gunung Jati dipimpin oleh anak bungsunya Syech Nurjati Cirebon yang bernama Syekh Datuk Khafid.

Hari berganti hari tahun berganti tahun, usia Syekh Datuk Khafid sudah sangat uzur, maka kedudukan atau pimpinan Paguron Gunung Jati digantikan atau di pimpin oleh Syarif Hidayatullah. Ketika menggantikan kedudukan pimpinan Paguron Gunung Jati sebagai guru dan da’i di Amparan Jati Syarif Hidayatullah diberi julukan Syekh Maulana Jati atau disingkat Syekh Jati.

Paguron Gunung Jati yang di pimpin oleh Syarif Hidayatullah ternyata berkembang pesat, banyak santri – santri di luar Cirebon untuk bersantri atau berguru di Paguron Gunung Jati. Perkembangan ini terus berlanjut tatkala Syarif Hidayatullah menggantikan uwaknya yakni Raden Walasungsang yang usianya sudah sangat uzur untuk memimpin Kerajaan Cirebon.

Ketika memimpin Kerajaan Cirebon Syarif Hidayatullah diberi gelar Susuhunan atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Syarif Hidayatullah setelah memimpin Kerajaan atau Kesultanan Cirebon, ia menikah dengan Nyai Kawunganten adik dari Bupati Banten. Dari pernikahan antara Syarif Hidayatullah dengan Nyai Kawunganten, dikaruniai 2 orang putra, yaitu :

1. Ratu Wulung Ayu.
2. Maulana Hasanuddin, yang kelak menjadi Sultan Banten I.

Pada tahun tahun 1402 Saka atau tahun 1480 Masehi atau semasa dengan Wali Songo Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon, membangun sebuah Masjid yang bernama Masjid Sang Cipta Rasa. Masjid ini dibangun atas kerja sama antara Sunan Gunung Jati dengan Sunan Kalijaga. Nama masjid ini diambil dari kata ” Sang ” yang bermakna keagungan, ” Cipta ” yang berarti dibangun, dan ” Rasa ” yang berarti digunakan. Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak di sebelah utara Keraton Kasepuhan. Masjid ini terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkan Wali Songo. Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon.

Menurut tradisi, pembangunan masjid ini dikabarkan melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak – Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.

Selain Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, di Cirebon juga terdapat sebuah Masjid yang bernama Masjid Merah Panjunan. Masjid Merah Panjunan di bangun pada masa Wali Songo yaitu pada masa Sunan Gunung Jati Cirebon, tepatnya pada tahun 1402 Saka atau tahun 1480 Masehi oleh Pangeran Panjunan yang adalah salah satu murid Sunan Gunung Jati Cirebon. Masjid Merah Panjunan ini terletak di Kampung Panjunan, kampung pembuat Jun atau Keramik Porselen.
Jika kita mengulas kembali pada saat pengusiran Syech Hasanudin atau Syech Mursahadatillah atau Syech Quro Karawang atau Syech Qurotul’ain oleh utusan dari Kerajaan Pajajaran ketika berada di Pelabuhan Muara Jati Cirebon, Syech Quro Karawang seraya mengatakan “ Meskipun dakwah dan penyebaran ajaran Agama Islam ini dilarang, kelak dari keturunan raja Pajajaran akan ada yang menjadi Waliyullah meneruskan perjuangan penyebaran ajaran Agama Islam ”. Maka perkataan Syech Quro Karawang ini jelas dan benar – benar terjadi, bahwa dari keturunan raja Pajajaran akan ada yang menjadi Waliyullah yaitu bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. “ Wallahu’alam bissawab “.

 

sumber: http://tejarrubiyanto2.blogspot.co.id

Komentar

comments