Review Album: Trauma “BALAKOSA”

by -420 views

IRC-Akhirnya penantian panjang selama tujuh tahun dari album keempat “PERENIAL” yang dirilis tahun 2012 membuahkan hasil kelima Trauma yang berjudul “BALAKOSA”. Mari simak ulasan album Trauma yang berjudul “BALAKOSA”.

Album Trauma yang dirilis tahun 2019 oleh Morbid Noise memuat sepuluh lagu yang kental dengan nuansa Old School Death Metal terutama Death Metal dari negara-negara Eropa seperti Unleash, Dismember, Benediction, Bolt Thrower dan Viking Metal ala Amon Amarth.

Lagu pembuka “Supremasi Kebencian” memberikan nuansa Old School Death Metal dengan sentuhan Amon Amarth dengan suguhan distorsi yang tebal dan vokal growl Nino Aspiranta.

Tidak itu saja Trauma dalam album ini disuguhi permainan lead gitar neo classical sehingga membuat komposisi lagu “Supremasi Kebencian” semakin beragam.

Untuk lagu-lagu berikutnya Trauma seperti memainkan dua konsep album sebelumnya yaitu album “PARADIGMA DEMI HIDUP TAK PERLU HARUS MATI” dan “DOMINASI KEMENANGAN”. Riff-riff minor dan epic yang disuguhkan oleh gitaris baru Trauma Henry Kemal mampu membuat nuansa lagu menjadi gelap tetapi memberikan semangat tiada henti.

Memang terasa perbedaan permainan yang disuguhkan oleh gitaris Trauma Heila Tanisan dengan Henry Kemal dalam album “BALAKOSA”.

Tetapi sayangnya dalam album ini Trauma tidak berani bereksperimen jauh dan masih berkutat dalam middle tempo dan kemiripan dari satu lagu ke lagu yang lain.

Padahal sebelumnya saya mengharapkan Trauma kembali ke konsep album “Extinction Of Mankind” dengan teknik permainan dan kualitas rekaman yang jauh lebih baik tapi mungkin Trauma mempunyai konsep sendiri yang baru.

Yang membuat penasaran saya dalam album ini adalah lagu “Human Suffering” yang sebelumnya terdapat dalam album “Extinction Of Mankind” yang dirilis tahun 1998.Lagu “Human Suffering” menjadi lebih gahar dan bertenaga daripada lagu “Human Suffering” versi lama dan ini menjadi nilai tambah dari Trauma.

Kesimpulannya dari sepuluh (10) lagu yang disuguhkan Trauma adalah perjalanan panjang band yang berdiri dari tahun 1992 dan masih eksis sampai saat ini dengan pembuktian album kelima mereka “BALAKOSA”.

Kualitas permainan dan rekaman yang jauh lebih baik dari empat album sebelumnya membuktikan Trauma selalu mengalami progres dan tidak stagnan dalam menelurkan karya fisik baik berupa album penuh (full lenght album) dan puluhan kompilasi serta split album dengan beberapa band metal ekstrim manca negara.

Dan kalimat terakhir untuk album ini adalah “Who said old school Death Metal was died?”.\/\/Reviewed by @wira for Gerilya Magazine